Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 09 Januari 2011

Kualitas Sumber Daya manusia

Kualitas Sumber Daya manusia

Kualitas sumber daya manusia masih menjadi persoalan utama dalam bidang pendidikan di Indonesia, baik di tingkat pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah. Dari sekitar 160.000 dosen yang ada di Indonesia, hampir 54 persennya masih belum S-2 dan S-3. Sementara guru, dari 2,7 juta guru, 1,5 juta di antaranya belum Sarjana (belum memasuki perguruan tinggi).
Sungguh sangat memperhatinkan melihat semakin hari kualitas manusia sekarang amat sangat rendah dimana sikap saling membantu antara sesama manusia untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa jika kualitas sumber daya manusia nya aja sangat rendah.
Padahal di perusahaan bonafit (perusahan besar) / kantoran dalam garis besar amat sangat di butuhkan Sumber daya manusia yg berkualitas. Khusus nya di instansi perusahaan saat ini yang di butuhkan antara lain :
1. Yang memiliki softkill yang baik yang memenuhi kebutuhaan saat ini
2. Jujur( dapat di percaya)
Dalam kehidupan saat ini kepercayaan merupakan bekal yang baik untuk kedepannya.
Berdasarkan data dari Global Competitiveness Report di tahun 2008, Indonesia berada di peringkat 55 sementara di tahun 2005 di peringkat 69.
"Jauh di bawah Singapura, Malaysia, Cina, dan Thailand. Singapura berada di peringkat ke-5 sementara Malaysia di peringkat 21 di tahun 2008," ujarnya. Lebih lanjut Nizam menuturkan, pekerjaan rumah yang dihadapi pendidikan di Indonesia masih cukup besar. Dikti, menurut dia, tidak mungkin mengatur seluruh sistem dengan permasalahan yang kompleks dan besar tersebut.
"Perguruan tinggi juga harus sprint untuk mengejar ketinggalan secara terus-menerus serta fokus dalam pengembangan penelitian untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan membangun reputasi internasional mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa kali terhadap anak didik, diperoleh kesimpulan, pendidikan di Indonesia tidak memberikan tempat untuk kemandirian serta kreativitas siswa. Metode yang digunakan selama ini hanya mengandalkan memori atau daya ingat siswa semata.
"Matematika hanya menghafalkan rumus, seharusnya memecahkan rumus. Bahasa hanya menghafalkan grammer, semestinya conversation. Akibatnya hampir tidak terlihat kegunaan dari pendidikan ini," katanya. Oleh karena itu, menurut dia, orientasi pendidikan harus segera diubah. Sebab pendidikan selama ini hanya mementingkan produk, bukan proses yang sebenarnya jauh lebih penting. "Kita sudah coba ubah salah satunya dengan Sistem Kredit Semester di perguruan tinggi, tetapi tetap kalah dengan kekuatan kolektivitas yang sudah ada. Apalagi dasar di pendidikan sebelumnya sudah tertanam pola itu. Itulah sebabnya sejak awal saya tidak setuju dengan penjurusan di SMA. Karena siswa yang seharusnya tidak naik kelas justru diarahkan ke sosial budaya. Mereka kemudian masuk di jurusan sosial perguruan tinggi. Jadilah mereka hakim, jaksa, dan pengacara sekarang ini," tuturnya.Oleh karena itu pemerintah harus lah membenahin keadaan Negara saat ini, khususnya peningkatan sumber daya manusia yang minim dengan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Sebaik nya pemerintah terjun langsung kemasyarakat khususnya kaum bawah (yang tidak mampu).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar